Categories Artikel

Animatronik: Sekelumit kisah dan perkembangannya

Apabila kita pernah melihat film-film dengan genre fiksi ilmiah (science fiction) seperti, Jaws, Terminator,
jumanji, Narnia, Jurassic Park, dll. Dalam film-film tersebut kita akan melihat karakter-karakter binatang
maupun karakter-karakter imajiner bisa bergerak dengan luwes dan berinteraksi dengan para aktornya.
Seolah-olah hidup. Jika kita pernah berkunjung ke sebuah taman hiburan, kita akan
menjumpai binatang-binatang yang sudah punah jutaan tahun yang lalu bisa “hidup kembali”. Semua hal itu disebut sebagai animatronik.

Animatronik mengacu pada boneka mekatronik. Mereka adalah varian robot modern yang bisa bergerak menyerupai makhluk hidup dan sering digunakan untuk penggambaran karakter dalam film dan atraksi-atraksi di taman hiburan. Ini adalah bidang multidisiplin yang mengintegrasikan boneka, anatomi, dan mekatronika. Mekatronika sendiri adalah cabang ilmu teknik yang berfokus pada integrasi sistem teknik mekanik, listrik dan elektronik, dan juga mencakup kombinasi robotika, elektronik, ilmu komputer, telekomunikasi, sistem, kontrol, dan rekayasa produk. Jadi Animatronik bisa dijelaskan dengan lebih sederhana sebagai boneka yang digerakkan oleh sistem elektronik, atau bisa juga disebut robot. (sumber: Wikipedia)


Di taman hiburan seperti Disneyland cukup banyak ditemukan Animatronik untuk atraksi-atraksi guna menghibur pengunjung. Demikian juga industri perfilman Hollywood, banyak menggunakan Animatronik dalam produksi film-filmnya. Penggunaan Animatronik dalam film dimaksudkan untuk mewujudkan karakter-karakter binatang, maupun karakter imajiner dalam cerita yang tidak ada pada kehidupan nyata (karena bentuk dan ukuran yang tidak lazim). Menjadi nyata, menjadi hidup.

(gambar)

Walaupun ada beberapa binatang yang bisa dilatih untuk melakukan gerakan tertentu, namun sangatlah terbatas. Oleh karena itu dibuatlah bonekanya yang digerakkan oleh sebuah sistem elektronik sehingga pergerakannya bisa diatur/diarahkan sesuai dengan keinginan sutradara dan terlihat hidup (nyata).

Seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan animatronik dalam industri film, studio-studio penyedia jasa pembuatan animatronik pun mulai tumbuh. Sebut saja antara lain yang terkenal
seperti Weta Workshop dan Stan Winston studio. Diluar itu masih banyak studio-studio kecil
dengan kemampuan terbatas.

Animatronik digunakan pertama kali dalam film produksi Disney yang berjudul “Mary Poppins (1964)” . Animatronik yang digunakan dalam film tersebut adalah seekor burung yang hinggap pada jari aktrisnya (Julie Andrews) yang sedang bernyanyi bersama. Kemudian berlanjut pada film-film fenomenal berikutnya, seperti “Jaws (1975)“, “Kingkong (1976)“, “Alien (1979)“, “Star War The
Empire strike Back (1980)
“, “An American Werewolf in London (1981)“, “The Thing (1982)“, “E.T. The Extra
Terretrial (1982)
“, “The Gremlins (1984)” (Ada cerita dalam proses pembuatan “The Gremlins (1984)” , film ini awalnya hendak menggunakan monyet yang mengenakan topeng untuk memerankan karakternya, namun karena monyetnya menolak mengenakan topeng, akhirnya dibuatlah karakter animatroniknya. Lalu selanjutnya film Terminator), “Labyrinth (1986)”, dan lain-lain.

Foto: Aktor Amerika Richard Dreyfuss memeriksa mulut hiu Putih Besar yang mati dalam gambar diam dari Jaws

Puncaknya adalah kemunculan film “Jurassic Park (1993)” sebuah film yang menggambarkan tentang kehidupan Dinosaurus yang disutradarai oleh Stephen Spielberg. Dalam film ini Stephen Spielberg mengkombinasikan Animatronik dengan kombinasi teknologi CGI (computer Generated Imagenery) untuk menggambarkan Dinosaurus supaya kelihatan lebih realistik.

Kehadiran film ini menandai dimulainya era CGI dalam industri film, dalam perkembangan selanjutnya film-film produksi Hollywood mulai mengandalkan teknologi CGI dalam proses pembuatan filmnya. Peran animatronik yang dulu menjadi tulang punggung film-film science fiction semakin lama semakin berkurang (tergantikan), seiring dengan semakin berkembangnya teknologi komputer.

Hingga pada akhirnya munculah film “Avatar (2009)” yang 100% CGI tanpa menggunakan animatronik, Kemudian dilanjutkan lagi dengan sekuelnya “Avatar 2: The Way of Water (2022)“. Avatar adalah lompatan teknologi yang dahsyat di industri film dalam kurun waktu 38 tahun (sejak kemunculan animatronik pertamakalinya dalam film Mary Poppins (1964)).

Saat ini teknologi komputer bagaikan tongkat ajaibnya si penyihir sakti, tidak ada yang tidak mungkin untuk diwujudkan. Dan bagi kreator film kini, langit adalah batasannya. Sepanjang ada yang mampu
membiayainya, segala imajinasi bisa diwujudkan. Dalam waktu dekat, mungkin film-film seperti dengan teknik seperti Avatar akan bermunculan menghiasi layar-layar bioskop.

Sumber: CGI Animation History: Defining (and Awesome) Moments in Cinema
1976, Futureworld – World’s first 3D animation in a movie

Bagaimana dengan animatronik dalam industri film di tanah air?

Animatronik masih belum banyak digunakan dalam proses produksi film di Indonesia, namun begitu pada beberapa taman hiburan, animatronik (Dinosaurus) sudah mulai dijadikan menjamur, menhadi atraksi utama untuk menghibur pengunjung. Penyebabnya? Entah karena dianggap masih terlalu mahal, atau keterbatasan SDM kreatif (sumber daya manusia). Untuk mengetahui hal ini, masih perlu dikaji lebih lanjut.

sumber gambar: Workshop Imajiku

Pertanyaannya kemudian: Apakah seiring dengan perkembangan teknologi, animatronik akan menjadi trend dalam industri perfilman nasional? atau justru semakin tidak diperlukan karena perkembangan CGI hari ini berkembang semakin pesat, murah, dan banyak SDM kreatif yang menguasainya?


Sumber referensi tulisan dan gambar:

  • Animatronics, Wikipedia
  • Mechatronics, Wikipedia
  • Child play : Top 10 cinematic animatronics of all time,
    Scifi Now- scifinow.co.uk
  • Google image

Penulis:

Sidharta Sukadi, SSn.

More From Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like