Categories Artikel Film Review

Ultraman Rising: Ketika Ultraman harus Mengasuh Kaiju

Buat kamu yang tumbuh di era 90-an, Minggu pagi itu waktunya nonton film kartun dan tokusatsu seru seperti Ultraman. Ultraman sudah jadi satu karakter raksasa ikonik dari Tsuburaya Productions Jepang. Serunya, Ultraman yang satu ini tampilan visualnya bergaya komik lewat film animasi keren berjudul Ultraman: Rising.

Mengangkat cerita unik tentang menjadi ‘orang tua’! Bayangkan Ultraman yang biasa lawan monster, harus mengasuh anak seekor monster Kaiju, tentu akan luar biasa pola asuhnya. Tak hanya berperan menjadi pahlawan, tapi juga menjadi seorang ayah! Disini pesan akan hubungan orang tua dan anak disampaikan melalui jalan hidup sebagai Ultraman.

Poster Ultraman: Rising, Sebuah IP Tsuburaya Productions


Bintang Bisbol Mengasuh Bayi Kaiju

Kaiju sudah menjadi monster raksasa Laut Pasifik yang sering menyerang Jepang. Biasanya, untuk melawan mereka, sosok superhero raksasa akan muncul dari wujud manusia.  Siapa lagi kalau bukan– Ultraman!

Ultraman tak hanya menjadi pelindung kota, namun juga seorang ayah dari Kenji Sato, anak semata wayang yang tumbuh jadi atlet bisbol terkenal di Amerika. Ultraman dulunya adalah seorang ilmuwan dari KDF (Kaiju Defense Force). Sebuah serangan Kaiju membuat ibunya menghilang sewaktu Kenji kecil, membuat hubungan dengan sang ayah renggang dan tak lagi harmonis hingga dia dewasa.  

Ken Sato

20 tahun kemudian, Ken (panggilan dewasa Kenji) pulang ke Jepang. Dia bergabung dengan klub bisbol lokal bernama Giants. Dia cukup populer di media, bukan karena prestasi namun performa yang menurun karena sikap sombongnya. Kekesalannya juga membuat Ken enggan untuk memperbaiki hubungan dengan ayahnya.

Di luar aktivitasnya, Ken juga seorang Ultraman. Berkat teknologi dan warisan dari sang ayah. Pada suatu pertandingan bisbol, tiba-tiba Kaiju Gigantron datang menyerang kota!  Ken yang saat itu bertanding cukup buruk di New Tokyo Dome, berubah menjadi Ultraman dan menyelamatkan kota. Di dalam puing-puing bangunan, Ken menemukan sebuah telur misterius. Telur tersebut ternyata milik induk Gigantron yang telah berhasil dikalahkannya atas bantuan unit udara KDF.  

Saat telur itu menetas, keluarlah bayi monster Gigantron yang imut– dan kini yatim-piatu karena induknya tewas. Dalam gendongan Ultraman, tanpa diduga dia merasa bertanggung jawab untuk merawat dan membesarkannya. Bayi Kaiju itu dia beri nama Emi. Mulai hari itu, hidup Ken berubah. Bukan cuma sebagai superhero muda dan bintang bisbol saja, kini dia juga menjadi… sosok orang tua dari bayi Kaiju!

Ultraman vs. Kaiju Gigantron


Animasi Bergaya Komik Pop

Ultraman: Rising (ウルトラマン: ライジング) termasuk film Ultraman ke-33 Tsuburaya sejak seri pertamanya tayang tahun 1966. Kali ini Shannon Tindle dan John Aoshima menjadi sutradara film ini, dan diproduksi oleh ILM (Industrial Light & Magic), studio legendaris dibalik film Rango (2011). Ultraman telah mengisi tayangan masa kecil banyak orang di televisi Asia. Figur superhero yang identik dengan kostum ketat melawan monster raksasa di tengah kota. Semua adegan selalu berakhir dengan bangunan hancur-hancuran.

Film ini dibuat dengan semangat yang sama, jauh lebih modern melalui animasi CG. Melalui gaya animasi 3D dan sentuhan visual efek komik pop 2D, Ultraman ini dibuat beda! Animasi 3D biasanya menonjolkan seberapa nyata visual diciptakan. Namun dengan gaya-gaya pop dan efek cetak poster (posterized print), film ini terasa memanjakan mata. Apalagi bagi yang suka tampilan animasi seperti Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018).

Gaya Visual Ultraman: Rising dengan Efek Visual Komik Pop

Kontras warna yang cerah, garis yang tegas, tekstur yang unik– terinspirasi dari karya Katsuhiro Otomo, kreator manga legendaris Akira. Pengaruh dari warna-warna sampul dengan marker copic. Visual yang menginspirasi sutradara dalam membawa alur cerita Ultraman terasa semakin memberi energi dan berkesan.

Gaya berubahnya Ultraman tentu saja ikonik. Dari manusia biasa berubah jadi raksasa bercahaya, lengkap dengan mata biru, garis warna kostum yang khas, dan helm lancip. Garis radial yang dramatis saat berubah dengan mengepalkan tangan, mengesankan momen semakin keren dan berasa nostalgia buat penggemar lama.         

Efek Radial pada Gaya Transformasi Ikonik Ultraman


“Big Hero, Bigger Responsibility”

Itulah pesan utama dalam Ultraman: Rising. Tumbuh sebagai pahlawan besar, maka harus siap mengambil tanggung jawab yang lebih besar pula. Ultraman dengan kekuatan yang besar, menghadapi para monster Kaiju. Ia tak hanya harus menang, tapi juga harus menjaga gedung-gedung kota dan orang-orang di dalamnya. Menjadi superhero tanpa menghancurkan dunia, bisakah Ultraman melakukannya!?

Hal baru semakin rumit di kehidupan Ken Sato. Sambil melawan para Kaiju, dia juga harus mengasuh bayi mereka! Anak turun dari monster yang selalu dia lawan. Merawat anak sendiri tidaklah mudah, apalagi bayi Kaiju. Bayi berukuran gajah dengan tubuh bersirip, punya insang dan paruh– juga kekuatan ultrasonik. Ken menamainya Emi.

Dengan badan ‘gemoy’ yang imut, bayi Kaiju jenis Gigantron ini tetaplah bayi. Kadang menangis tantrum, salah makan, dan sakit perut. Usia yang butuh banyak perhatian Ken sebagai ‘ayah asuhnya’. Meski beda spesies, lama-lama tumbuh kasih sayang. Monster juga sama-sama memiliki empati, perasaan, dan bisa belajar.

Dari memberi makan, memandikan, mengurus kotorannya merupakan tugas pokok orang dewasa dalam mengasuh bayi. Emi berkembang cepat dalam berjalan dan juga berenang. Makanan yang cocok bagi seekor bayi Kaiju adalah ikan segar. Ken diuntungkan dengan fasilitas rumah yang memadai, ruangan luas, dan kecanggihan teknologi yang otomatis. Didukung asisten AI pribadinya, Mina juga berperan penting dalam memberi tips ‘mengasuh Kaiju’ untuk Emi.  

Dalam usia balita, banyak hal iseng yang terkadang merusak. Peran pola asuh yang utama adalah mengenalkan segala hal yang dilakukan selalu ada dampak. Baik buruk dampaknya, balita akan belajar. Emi memang bukan sembarang anak, nantinya ia akan tumbuh menjadi seekor Kaiju naga bersayap. Ia tumbuh bergantung pada prosesnya.

Emi tentu saja menyebabkan banyak kekacauan. Baginya perkotaan Tokyo adalah halaman bermain. Tapi bagi para manusia yang tinggal, itu adalah serangan monster. Lantas respon Ken, apakah dia harus bertindak sebagai Ultraman, ataukah menjadi orang tua yang harus bisa mengatasi segala keadaan!?       

Ultraman Mengasuh Kaiju

Dalam urusan ini, Ken meminta nasehat ke seseorang melalui panggilan telepon.

Kadang mereka bagai monster kecil. Namun, mereka juga bisa mengejutkanmu. Mereka punya hati dan pikiran sendiri. Mereka mencoba menemukan diri mereka dan apa yang mereka inginkan. Dukungan yang mereka miliki hanya kita. Kita yang tak sempurna. Kita yang punya masalah kita sendiri. Mencoba mencari tahu siapa diri kita. Itulah keindahannya.

Ami Wakita (Peliput media DI ULTRAMAN: RISING)

Jawaban yang cukup dalam bagi Ken dalam proses mengasuh Emi. Siapa sangka selain perannya jadi superhero, Ultraman juga harus menjadi ‘pengasuh bayi super’!


Menjadi Orang Tua

Ultraman: Rising tak sekedar fiksi superhero yang penuh aksi. Bagaimana mengasuh dan membesarkan seorang anak dari bayi hingga dewasa, dapat mendewasakan kita sebagai penonton.

Ken tumbuh dalam keluarga harmonis, banyak tawa dan kenangan yang indah. Ayahnya seorang profesor dan juga Ultraman. Sementara, ibunya seorang ibu rumah tangga penggemar bisbol. Dinamika keluarga datang dalam usia saat dia butuh banyak kehadiran sosok orang tua. Kekecewaan dan kehilangan bisa hadir karena suatu tragedi. Menyalahkan orang tua dalam hal ini, tentu bukanlah hal bijak. Luka di masa kecilnya, membuat Ken sulit memaafkan sosok ayah yang seharusnya selalu mendukung di sampingnya.

Perlakuan Ken juga berdampak pada Profesor Hayao Sato, seorang ayah yang merasa gagal sebagai ‘Ultra-Dad’ bagi sang anak. Menjadi Ultraman tak cukup untuk berdamai dengannya. Anak memang memiliki inisiatifnya sendiri, terkadang tak terkontrol dan tak selalu sejalan dengan harapan orang tua. Memaksakan harapan juga dapat berimbas ke arah yang kurang baik. Hubungan mereka berdualah akibat dari harapan yang dipaksakan, bukan tertanam secara alami pada diri anak.

Pertemuan Pertama Bayi Kaiju yang Baru Saja Menetas dengan Ultraman

Meski begitu, kehadiran sosok Emi dalam hidup bisa menjadi jembatan itu semua. Menyatukan dua hati yang berbeda dalam satu tujuan bersama. Tak sekedar Kaiju kecil yang butuh perhatian, Emi hadir sebagai titik-balik.

Ken yang mulanya sibuk mengejar popularitas, mulai belajar mengurus ‘anak’. Lain pula dengan upaya ayahnya untuk melindungi kelangsungan hidup. Dua peran berbeda menuju satu tujuan penting: menyelamatkan Emi agar tidak punah. Disinilah keduanya bisa mencair, yang mulanya menjauh mulai saling mengerti.  

Menerima kenyataan itu bukanlah hal mudah bagi seorang ayah, terutama dalam memberi pilihan dan ternyata tak sejalan. Menerima memang butuh waktu. Bagi seorang anak, memaafkan kesalahan orang tua di masa kecil sewajarnya dilakukan, meski tak selalu mudah berlalu. Ada bekas luka yang tak cukup untuk ditambal. Namun ada hal positif yang datang dalam tiap upaya memperbaiki hubungan. Seorang anak mewarisi eksistensi dan harapan orang tuanya. Film ini bukan bercerita soal siapa menjadi benar, namun bagaimana menumbuhkan proses untuk lebih saling mengerti dan memahami itu mungkin diusahakan. Bahkan penting– seperti Ken dan ayahnya setelah Emi hadir di tengah hubungan mereka yang rumit.    

Kenji & Ayahnya, Profesor Sato


Musik Ultra-Epik

Sepanjang film ini, kamu akan ditemani musik-musik modern dan kekinian. Nuansa futuristik terasa dari lagu pop beat elektronik dari Diplo dan Oliver Tree berjudul “ULTRAMAN”. Lagu ini muncul pada trailer di kanal Netflix dan juga saat credit title.

Nuansa emosional pada credit title juga dibawakan Alicia Creti pada lagu “No Better” dengan tempo yang lebih pelan. Sementara momen lucu yang menghibur pada montase Ken mengasuh bayi monster juga memakai lagu pop-punk berjudul “Heart Blue” dari band Jepang 10-FEET. Juga banyak lagu lain yang tak hanya berbahasa Jepang saja, dikomposisi secara ciamik dengan latar musik instrumental oleh Scot Stafford dan JJ Wiesler.

Yang membuat musiknya “Ultraman banget” adalah sentuhan klasik Ultraman yang khas– dari sumber musik serial televisi karya Kyoichi Azuma dan Kunio Miyauchi yang otentik. Bagian pembukanya, efek suara ‘beep-beep’ yang ikonik membuat judul film terasa epik. Itu adalah efek suara alarm dari ‘Color Timer’ di dada Ultraman yang akan berbunyi berulang-kali sesuai keadaan fisiknya. Kalau lampu menyala merah dan bunyi semakin cepat? Waktu habis bagi Ultraman saat bertarung, ia akan mengecil kembali ke bentuk manusia. Suara ini menjadi unsur utama kapan seorang Ultraman dapat beraksi kembali dan kapan harus berhenti. Semacam batas pengingat yang sangat khas dan terasa nostalgia.       

Kisah Epik Sekaligus Dramatis dari Hubungan Ultraman & Emi

Musik di Ultraman: Rising berhasil menceritakan aksi seru heroik yang tak hanya menghibur, tapi juga menyentuh. Hubungan orang tua dan anak selalu dialami semua orang. Kenangan masa kecil ternyata juga mempengaruhi tumbuh-kembang mereka saat sudah besar. Pesannya, kita dapat belajar hal-hal baru dari anak yang kita besarkan, seperti halnya anak belajar dari diri kita. Menjadi orang tua, mengasuh anak bagi Ultraman sekalipun… bukan suatu proses yang mudah, namun adalah peran yang sangat berarti.      


Playlist Musik dapat didengar di:

Scot Stafford Soundtrack from the Movie

Rilis: 14 Juni 2024 (Jepang)
Premiere: Annecy International Animation Film Festival (12 Juni 2024)
Media Streaming: Netflix

Penulis

IIustrator, bergabung sebagai volunteer dan membantu kerja-kerja
visual seperti ilustrasi, desain, dan poster.

Tulisan Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like