Balik Layar: “Begog” Inspirasi dari Kampung Sang Kreator ketika Pandemi

‘Begog’ adalah film animasi yang lahir dari tangan kreatif Wahyu Nurul Iman pada tahun 2020. Ia adalah seorang animator dan filmmaker dari Cilacap yang mengenyam pendidikan di ISI Yogyakarta. Film ‘Begog’ dibuat sebagai bagian dari tugas mata kuliah animasi eksperimental di kampusnya. Awalnya, film ini hanya berdurasi 1 menit saja, namun Wahyu merasa tertantang untuk memperpanjang durasinya dan menggali lebih dalam potensi ceritanya. Proses produksi film ini dilakukan di rumah Wahyu di Cilacap, sebuah keputusan yang dipengaruhi oleh situasi pandemi COVID-19 yaitu semua kegiatan perkuliahan terpaksa dilakukan secara online. Pada kondisi tersebut, Wahyu harus beradaptasi dengan keterbatasan. Ia memilih untuk menggunakan objek-objek dari lingkungannya sebagai bahan utama untuk menciptakan animasi yang unik dan bermakna. Inspirasi utamanya datang dari cerita yang sedang hangat dibicarakan di kampungnya. Tentang Begog, atau babi hutan, yang sering merusak tanaman warga.

Cerita ini mencerminkan konflik antara manusia dan alam, sebuah tema yang relevan dan akrab bagi banyak orang di daerahnya. Menggunakan teknik animasi sederhana, Wahyu memotret daun, pohon, batu, dan berbagai benda lainnya, kemudian mengolahnya secara digital menjadi aset-aset animasi. Karakter Begog dan manusia juga diciptakan secara digital, memadukan elemen-elemen alam dan digital dalam sebuah komposisi yang menarik.

Sinopsis Begog
Begog, atau babi hutan, adalah hewan yang tinggal di hutan dan sering bermigrasi. Karena kesulitan menemukan makanan di hutan, mereka merusak tanaman seperti singkong, kacang tanah, padi, dan ubi yang ditanam oleh manusia. Tindakan mereka membuat para pemilik pekebun marah dan mengalami kerugian besar, sehingga banyak yang terpaksa menginap di kebun mereka untuk menjaga tanaman dari serangan Begog. Selain itu, Begog juga diburu oleh manusia karena daging mereka dapat dikonsumsi.

Mengangkat Ide dari Sekitar
Wahyu Nurul Iman mengangkat cerita yang akrab bagi warga kampung halamannya. Menggabungkan elemen-elemen lokal dengan teknik animasi sederhana, Wahyu memvisualisasikan cerita dalam bentuk animasi eksperimental. Situasi pandemi yang memaksanya mengerjakan tugas dari rumah tidak menghalangi kreativitas, justru memacu Wahyu untuk melihat sekelilingnya dengan mata yang lebih tajam dan hati yang lebih terbuka.

Karya ini menyampaikan pesan penting tentang apa yang terjadi di sekitar kita bisa menjadi sumber ide yang berharga untuk diangkat dalam sebuah karya. Dengan mengamati lingkungan dan mendengarkan cerita-cerita lokal, kita bisa menemukan inspirasi yang kaya dan autentik. Keterbatasan bukanlah halangan untuk berkarya, melainkan bisa menjadi pemicu kreativitas yang lebih besar. Melalui film Begog, Wahyu tidak hanya menciptakan animasi yang menarik, tetapi juga menyampaikan cerita yang memiliki makna mendalam bagi orang-orang di sekitarnya.

Musik pada film ini di buat oleh Dimawan Krisnowo Adji dan diberi iringan suara oleh Devita Ambar Koeswarawangi. Awalnya Wahyu meminta saran musik apa yang cocok untuk film ini. Lalu beberapa hari kemudian, Dimawan mengirimkan musik yang sudah dibuatnya. Musik yang digarap dengan apik dan dramatis dengan memadukan alat musik lokal dan modern. (NDL)

Credit Film

Producer
Wahyu Nurul Iman

Director
Wahyu Nurul Iman

Asset Artist
Wahyu Nurul Iman

Voice Over
Devita Ambar Koeswarawangi

Music Composer
Dimawan Krisnowo Adji

Animator
Wahyu Nurul Iman

Compositor & Editor
Wahyu Nurul Iman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *