Memiliki sahabat yang menyenangkan dan bisa dipercaya tentu menjadi harapan banyak orang. Namun figur seperti itu tak selalu datang begitu saja. Terkadang, orang yang kita anggap teman sejati bisa berubah saat ambisinya tercapai. Semuanya bisa berubah dari ketulusan menjadi sesuatu yang amat asing.
Itu adalah penggalan cerita dalam Secret Level, serial antologi animasi produksi Blur Studio– studio dibalik LOVE, DEATH + ROBOTS. Serial ini sudah resmi tayang di Amazon Prime sejak 2024 dengan mengangkat 15 video game terkenal dunia. Salah satunya adalah game action-RPG ‘The Outer Worlds 2’ yang diangkat dalam cerita romansa berjudul The Outer Worlds: The Company We Keep. Episode ini merupakan film ke-9 dari total 15 episode serial tersebut.
Secret Level (ditulis juga sebagai: SΞCRΞT LΞVΞL) diproduseri oleh Tim Miller dan Dave Wilson. Serial ini menjadi perayaan sekaligus penghormatan bagi dunia video game dengan visual yang tak hanya keren, tapi juga bermakna.

Demi Perusahaan dan Harapan Seorang Sahabat
Amos adalah seorang penambang sampah mekanik yang ulet dan optimis di kota pertambangan Argos. Meski tumbuh sebagai pria yatim piatu di tengah penduduk kelas bawah, Amos dikenal jujur dan selalu berlaku positif dalam segala hal. Dia bahkan mengaku dirinya tak pandai berbohong.
Suatu hari, Amos tertarik menjadi partisipan uji medis di perusahaan Auntie Cleo yang berlokasi di Stasiun Eksperimen Numa. Daerah luar planet yang jauh dari kota tambang tempat dia tinggal. Dia bekerja penuh semangat hingga poin kerjanya cukup untuk mendaftar. Meski tahu akan dijadikan bahan uji coba produk perusahaan, dia tetap bersedia. Semata-mata karena ingin bertemu seorang sahabat lama yang kini bekerja disana sebagai ilmuwan, namanya Felicity.

Amos terkenang kembali akan pertemuan awal mereka– sewaktu sama-sama hidup dalam lingkungan pertambangan terpencil tanpa hukum. Dari sana Amos jatuh hati. Mimpi Felicity adalah menjadi seorang ilmuwan. Ia pernah mengobati luka gores Amos dengan salep buatannya dan membalutnya dengan seutas bandana ungu. Felicity percaya, lewat produk medis yang dikembangkan Auntie Cleo, ia bisa membantu lebih banyak orang.
Kesempatan besar akhirnya datang untuk Felicity. Ia diterima dalam studi medis impiannya. Meski berat, Amos melepas keberangkatan sahabatnya. Memorinya tersimpan dalam ikatan bandana yang masih dia pakai sampai sekarang.
Tak lama kemudian, giliran Amos terpilih sebagai partisipan uji coba. Hari demi hari dia menjalani serangkaian tes medis yang beresiko. Mulai dari uji salep kulit antasida, tablet paru-paru karbolasi, hingga puluhan eksperimen yang perlahan menghilangkan bagian tubuhnya. Di laboratorium itu, bahkan panca indera dan pikirannya dianggap milik perusahaan.

Disana Amos bisa bertemu kembali dengan Felicity doktor– yang kini sudah bergelar Dr. Felicty Karo. Ia bangga melihat banyak terobosan medis yang dihasilkan sahabatnya itu. Felicity juga direkomendasikan menjadi kandidat Auntie Cleo selanjutnya. Itu adalah puncak karirnya. Dengan penuh harapan, Felicity percaya ini semua dapat membawa kebaikan.
Sebaliknya dengan Amos yang mulai ragu, dia merasa itu bukan kebahagiaan yang Felicity cari. Dia sudah melihat dan merasakan kenyataan dibalik semua itu. Untuk menciptakan produk yang ‘sempurna’, perusahaan mengorbankan terlalu banyak jiwa dengan cara yang tidak manusiawi. Namun Amos enggan menyampaikan rasa gundahnya. Dia takut menyakiti perasaan dan menghalangi jalan sahabatnya itu. Amos hanya pasrah dan mengakui apapun yang dilakukan Felicity itu benar. Dia memilih percaya, meski bukan itu yang dia rasakan dalam hatinya.
Dunia Retrofuturistik yang Menawan
Sebagai animasi 3D produksi Blur Studio, The Outer Worlds: The Company We Keep tampil dengan CGI yang sangat realistis dan detail. Tekstur karakter, benda hingga bangunan latarnya memiliki kedalaman visual yang tinggi. Model karakternya dibuat halus, dan gerakan animasinya terlihat cukup nyata.
Dari segi desain karakter, bentuk kepala yang agak besar terkesan otentik dengan tampilan semi-karikatur yang unik. Menariknya, wajah para karakter didesain mirip dengan aktor pengisi suaranya. Misalnya wajah Amos terlihat seperti Brenock O’Connor, sedangkan Felicity menyerupai Raffey Cassidy.


Bagi kamu yang suka dunia steampunk atau dieselpunk, maka film satu ini jadi rekomendasi! Ceritanya menyajikan kehidupan manusia di tengah dunia mesin yang kompleks. Nuansa retro bergaya Eropa abad 17-18an terasa kuat. Suara deru mesin, gesekan logam, dan pesawat antigravitasi jadi bagian dari dunia itu. Kota tambang Argos tampil cukup hidup dan terang. Pemandangan limbah industri di bawah cahaya matahari senja membuat beberapa adegan terasa emosional. Hubungan antara karakter dan lingkungannya pun seakan menyatu.
Sementara itu, suasana visual pada interior perusahaan Numa lebih terkesan kontras, gelap dan monokrom. Desain pola dan ruangan yang teratur memberi kesan sistem yang kaku dan terkontrol, seolah-olah tidak ada ruang untuk kebebasan. Warna kehijauan yang dominan juga memberi sentuhan latar dunia medis yang eksperimental. Bahkan terasa seperti dalam film misteri atau fantasi magis.
Beberapa adegan juga dibuat lebih emosional lewat permainan siluet dan pencahayaan. Misalnya saat Amos dan Felicity menghabiskan waktu bersama di Argos. Pencahayaan yang redup juga digunakan untuk membangun perasaan dekat atau justru sendu– sesuai emosi karakternya. Perbedaan suasana yang dinamis antara keduanya terasa sangat nyata.

Dunia fantasi dalam film ini juga mengingatkan pada film In Time (2015) yang dibintangi Justin Timberlake. Keduanya punya mesin khusus di lengan yang digunakan untuk menukar poin. Tapi disini, nilai tukarnya adalah fasilitas penunjang hidup dan makanan seperti jelly Vita-Gruel. Produk kalengan buatan Auntie Cleo.
Ambisi dan Kebohongan
Cerita romansa dari The Outer Worlds menyajikan konflik menarik antara dua karakter utamanya. Amos adalah pribadi sederhana yang tak suka basa-basi dan selalu bersikap apa adanya. Sedangkan Felicity memiliki pengembangan karakter yang cukup dalam. Awalnya ia adalah pribadi yang ramah dan humanis di mata Amos. Tapi semuanya berubah ketika ambisinya mulai tercapai.
Ambisi bisa memicu motivasi untuk mencapai cita-cita. Tetapi saat ambisi mulai melampaui batas kemampuan, dan didorong motif tersembunyi, semuanya bisa terasa berbeda. Tidak lagi terasa positif. Itulah yang mulai dirasakan Amos setelah menyadari bahwa Felicity yang rela mengorbankan banyak hal demi puncak karir. Sebuah tangga yang banyak mengorbankan rasa sakit orang lain sebagai pijakan. Tak sedikit pula bahan percobaan disana berulang kali gagal.
Namun, pengorbanan terbesar Amos sebagai ‘bahan uji coba’ bukan sekadar kehilangan bagian tubuhnya yang kini digantikan mesin. Dia kehilangan sesuatu yang lebih dalam– kemampuannya untuk jujur terhadap diri sendiri. Baginya, ambisi dapat merubah watak. Dari dia dapat menyampaikan perasaan dengan jujur. Kini dia lebih memilih diam, memendam apa yang ia rasakan. Mengatakan apa yang ingin didengar orang lain, bukan yang sebenarnya dia pikirkan. Hatinya mulai goyah. Harapan yang dulu membuatnya bahagia, kini terasa menyesakkan.

Lalu, apakah pantas menyenangkan orang lain dengan kebohongan? Ataukah perasaan itu menyakiti diri sendiri karena kebenaran justru dipendam!? Hubungan Amos dan Felicity terasa seperti ironi. Ada cinta namun hanya untuk dikenang, tak sepadan dengan dalamnya pengorbanan. Pada akhirnya, perasaan paling tulus pun bisa menjadi luka, jika tak berjalan di arah yang sama.
Lapisan Sosial dan Sisi Gelap Eksperimen Medis
Game produksi Obsidian Entertainment yang berjudul The Outer Worlds 2, diadaptasi ke dalam film pendek animasi dengan latar dua dunia yang sangat berbeda. Di satu sisi, ada kelas pekerja– mereka yang menjalani hidup berat sebagai buruh di koloni tambang. Di sisi lain, ada kaum cendekiawan dan ilmuwan dari perusahaan bernama Numa. Mereka tinggal dalam fasilitas penelitian untuk mengembangkan teknologi medis.

Sayangnya alih-alih demi kesejahteraan umat manusia, para ilmuwan memanfaatkan manusia dari kelas bawah. Mereka dijadikan objek uji coba dengan cara yang tidak manusiawi. Untuk menciptakan produk yang ‘sempurna’ dari Auntie Cleo, banyak eksperimen yang merenggut banyak nyawa dilakukan. Manusia tak menjadi makhluk hidup yang layak dilindungi, melainkan hanya sebagai objek dalam proses produksi.
Melalui film karya sutradara Bengt-Anton Runsten ini, sisi gelap medis eksperimental menjadi topik yang menarik untuk disorot. Tema yang pernah terjadi dalam sejarah nyata masa lalu. Eksperimen merupakan langkah menuju kemajuan ilmu pengetahuan. Tapi saat batas peri kemanusiaan dilanggar, masalah bisa muncul.
Cerita ini terasa relevan dengan dunia nyata. Sampai hari ini, suatu produk tertentu bisa saja diujikan pada makhluk hidup tanpa pengawasan– tak terkecuali juga kepada manusia. Seperti pada industri obat-obatan, makanan, suplemen, maupun produk lainnya. Lebih mirisnya, sebagian besar target percobaan itu berasal dari kelompok rentan. Masyarakat yang tak produktif, gelandangan, atau bahkan mereka yang dianggap ‘tidak berguna oleh sistem’.
Apakah tindakan eksperimen seperti ini hanyalah isu? Bila itu terjadi padamu, masih amankah tanpa adanya efek samping? Film pendek The Outer Worlds yang berdurasi 19 menit, mampu mengangkat isu berat ke dalam bentuk animasi yang kuat dan emosional. Unsur romansa dengan bumbu komedi ternyata dapat membawa pesan sosial yang jitu.
Melodi Santai dalam Ironi Romansa
Dalam cerita romansa, musik biasanya disajikan dengan nada lembut dan tempo yang lambat. Film The Outer Worlds: The Company We Keep membawa Amos dan Felicity dalam kisah romansa yang berbeda. Rob Cairns, komposer yang mengisi musik untuk serial antologi Secret Level, memainkan nada-nada yang terasa optimistik di film ini. Musiknya santai, tapi punya tempo yang cukup energik. Sesuai dipakai dalam sekuen komedi ringan di film ini.
Instrumen dalam beberapa momen karakter saat bahagia, terkadang terdengar seperti musik dari dongeng klasik. Meskipun gaya musiknya tidak terlalu identik dengan dunia retrofuturistik secara jelas, justru lebih terdengar apik sebagai ambiens musik mengiringi jalannya cerita.
Dari keseluruhan 15 episode Secret Level, musik khasnya terdapat pada trailernya. Trailer itu tayang di kanal Youtube Prime Video sejak 13 November 2024. Trailer yang diawali dialog epik dalam cuplikan Dungeons & Dragons: The Queen’s Cradle, dengan iringan lagu dari band M83 berjudul Outro. Pilihan lagu ini terasa melekat lebih dalam, bahkan sebelum film serialnya resmi tayang.
Tonton trailernya:
Tambahkan di playlist kamu:
Rob Cairns Soundtrack from the Movie
Mainkan game asalnya di:
Rilis (Serial): 10 Desember 2024 (Prime Video)
Rilis (Episode): 17 Desember 2024 (Prime Video)
Media Streaming: AmazonPrime Video
