Dirilis di Indonesia pada 21 Maret 2025, Ne Zha 2 merupakan sekuel dari film animasi Tiongkok berjudul Ne Zha yang sukses pada tahun 2019. Disutradarai dan ditulis oleh Yang Yu (Jiaozi), film ini diproduksi oleh Chengdu Coco Cartoon dan Beijing Enlight Media, serta didistribusikan oleh Beijing Enlight Pictures. Produksi film Ne Zha 2 melibatkan kolaborasi besar yang mencakup lebih dari 138 perusahaan animasi, dengan beberapa studio memainkan peran penting dalam aspek-aspek tertentu dari pembuatan film ini. Dengan anggaran produksi sekitar 600 juta yuan (sekitar 80 juta dolar AS), Ne Zha 2 berhasil meraih pendapatan global sebesar 2,15 miliar dolar AS, menjadikannya film animasi terlaris sepanjang masa dan film non-Hollywood pertama yang mencapai tonggak tersebut, menurut China Global Television Network.
Melanjutkan Kisah
Ne Zha 2 adalah lanjutan dari kisah dari film pertamanya, dengan fokus pada perjalanan Ne Zha dan Ao Bing yang kehilangan tubuh fisik mereka akibat sambaran petir surgawi. Mereka harus menjalani serangkaian ujian untuk mendapatkan kembali tubuh mereka. Film ini berbicara tentang pencarian jati diri, persahabatan dan perlawanan terhadap stigma atau prasangka. Sebagai seseorang yang belum menonton film pertama Ne Zha , awalnya saya merasa kesulitan mengikuti alur cerita dan mengingat nama-nama karakter di dalamnya. Namun, keterikatan terhadap visual yang megah dan pengenalan emosional karakter yang dibangun sejak awal membuat saya tetap invested dan peduli terhadap perkembangan cerita.

Sumber gambar: IMDB.com
Desain Visual, Pengkarakteran dan Dunia Fantasi Timur
Secara visual, Ne Zha 2 tampil mengesankan. Gaya desain yang diusung tidak hanya menarik secara estetika, tetapi terlibat dalam merepresentasikan budaya Tionghoa. Setiap karakter dirancang dengan ciri khas etnis dan bentuk tubuh yang beragam, tidak terstandarisasi oleh pakem barat yang cenderung menampilkan tubuh dengan proporsi hiperbola, rahang tegas, serta maskulinitas dominan pada karakter laki-laki. Sebaliknya, Ne Zha 2 menampilkan karakter-karakter dengan keberagaman bentuk tubuh, ekspresi wajah, dan spektrum gender yang lebih luas.

Sumber gambar: IMDB.com
Salah satu karakter yang menonjol adalah Ao Bing, yang merepresentasikan sosok maskulin lembut—dengan postur tinggi, sorot mata teduh, serta gerak tubuh yang anggun. Penampilannya khas karakter silat film-film budaya Tiongkok, yang memadukan femininitas dan kekuatan sihir, memunculkan kembali perspektif unik terhadap representasi pahlawan laki-laki; bahwa keberanian dan kekuatan tidak harus diwujudkan melalui agresivitas atau dominasi. Representasi ini sebenarnya bukan pertama kali diusung dalam layar lebar, namun keberadaannya dalam film yang kontras dengan karakter utama terasa menyegarkan dan membuka ruang bagi keberagaman karakter dalam genre animasi global.
Dunia magis yang ditampilkan dalam film ini pun sangat khas Tiongkok. Nuansa estetika drama kolosal tercermin melalui adegan-adegan yang menampilkan karakter melayang anggun di udara, kostum yang kaya ornamen namun tetap halus, serta lanskap dunia yang imajinatif dan sarat dengan nilai-nilai filosofi Timur. Semua elemen ini tidak hanya membangkitkan nostalgia tetapi juga menegaskan bahwa identitas budaya lokal dapat menjadi kekuatan utama dalam panggung hiburan global.

Sumber gambar: IMDB.com
Penceritaan Detail dan Referensi Pop
Dari segi penceritaan, Ne Zha 2 menawarkan pengalaman yang inklusif dan menyeluruh. Setiap karakter dikembangkan dengan cermat, termasuk tokoh-tokoh minor seperti sekelompok bandit marmut yang hanya muncul sesaat, namun tetap memiliki daya tarik tersendiri. Keberhasilan ini tidak hanya terletak pada desain visual, tetapi juga pada cara film menyisipkan humor serta referensi budaya populer secara rapi. Beberapa dialog bahkan menyentil dongeng klasik barat dan menyisipkan lelucon yang terinspirasi dari meme internet, tanpa terkesan dipaksakan. Menariknya, tidak ada karakter yang secara berlebihan mendominasi layar, masing-masing diberikan ruang untuk berkembang dan bersinar. Hal ini mencerminkan desain karakter yang matang, suatu hal yang terkadang terlupakan dalam film animasi arus utama saat ini.
Kekuatan utama film ini terletak pada pesannya. Ne Zha 2 menyoal sistem yang membelah, menghakimi, dan melabeli manusia berdasarkan asal, elemen, atau golongan. Narasi tentang api versus air, kebaikan versus kejahatan, terang versus gelap—semua dikupas ulang, menunjukkan bahwa garis batas tersebut tidak selalu jelas. Bahkan tokoh-tokoh yang dianggap dari kasta atas pun bisa korup, sementara makhluk dari ras yang distigmatisasi sebagai “iblis” justru menunjukkan welas asih. Di tengah dunia yang kini sarat akan polarisasi, pesan tentang kesetaraan dan persatuan ini menjadi sangat relevan. Ini bukan sekadar film animasi untuk anak-anak, tapi sebuah karya yang mengundang audiens lintas usia untuk berpikir ulang tentang sistem nilai dan prasangka sosial.
Ne Zha 2 bukanlah film animasi pertama dari RRT yang mendapat sorotan internasional. Namun kekhasannya terletak pada fakta bahwa film ini merupakan hasil kolaborasi banyak studio dari berbagai negara, dikerjakan untuk menjangkau penonton dunia. Walaupun tidak sedikit yang menilai bahwa Ne Zha 2 masih memiliki banyak kekurangan jika dibandingkan dengan film pertamanya—khususnya dari segi pengembangan karakter dan kedalaman cerita—bagi saya yang belum menonton film pendahulunya, film ini tetap memberikan pengalaman menonton yang menyenangkan.

Sumber gambar: IMDB.com
Tantangan Film Sekuel
Meski demikian, saya juga tidak bisa menutup mata terhadap beberapa tantangan yang dihadapi penonton baru seperti saya. Kompleksitas dunia fantasi yang dibangun dalam waktu terbatas membuat beberapa bagian terasa kurang mudah diikuti. Penjelasan mengenai aturan dunia, sistem elemen, dan latar belakang tokoh-tokoh kerap hanya disampaikan melalui dialog cepat, tanpa visualisasi yang membantu. Selain itu, banyaknya nama-nama karakter yang tidak familiar bagi penonton Indonesia, serta cepatnya alur dalam menjelaskan konteks mitologis, bisa menjadi hambatan tersendiri. Hal ini mengingatkan saya pada pengalaman menonton film fantasi seperti The Lord of the Rings, di mana penonton butuh waktu untuk mengingat dan memahami istilah serta struktur dunia yang asing.
Sementara itu, bagi penonton yang sudah menonton film pertama, beberapa menganggap Ne Zha 2 tidak menghadirkan perkembangan signifikan dari segi cerita maupun karakter. Hal ini bisa jadi merupakan jebakan klasik film sekuel, di mana ekspektasi tinggi dari film pertama tidak selalu berhasil terpenuhi. Seperti halnya banyak franchise besar, sekuel sering kali berada di posisi sulit: terlalu kompleks untuk penonton baru, tapi terasa kurang segar bagi penonton lama. Keberhasilan film How to Train Your Dragon dalam menjaga konsistensi triloginya bisa menjadi pengecualian, namun pada umumnya, sekuel memang memiliki tantangan tersendiri untuk bisa menyenangkan dua kubu sekaligus.

Sumber gambar: IMDB.com
Catatan untuk Kreator Animasi Indonesia
Bagi para kreator dan pelaku industri animasi Indonesia, Ne Zha 2 memberikan pelajaran penting, bahwa keberhasilan sebuah karya tidak hanya bergantung pada kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan pasar global, tetapi juga pada seberapa beraninya kita membawa cerita, nilai, dan identitas lokal kita ke meja yang sama.
Saya pribadi berharap akan semakin banyak karya animasi dari Asia—termasuk Indonesia—yang bisa seperti Ne Zha 2: kuat secara visual, kuat secara pesan, dan berani menjadi dirinya sendiri. Dunia kini lebih terbuka dari sebelumnya terhadap cerita yang datang dari berbagai sudut. Tantangannya bukan lagi hanya soal “bisakah kita membuat film,” tetapi sejauh mana kita berani menyuarakan identitas kita sendiri, dengan kualitas yang mampu menyentuh penonton di mana pun mereka berada.
[CP]