Kwartet – Gupala Sang Jagawana: Belajar Beradab Lewat Petualangan Mistika Bocah-bocah Kwartet

Logika mistika, atau erat kaitannya akan kepercayaan terhadap tahayul sering menjadi poin andalan kisah-kisah film fiksi di Indonesia, termasuk dalam film animasi. Apalagi bila dalam ceritanya mewujudkan sosok roh halus berkekuatan spiritual, mampu berpindah dimensi, bahkan membuat penonton ikut merasa ketakutan. 

Indonesia negeri yang kaya akan misteri. Sejarah peradaban yang ditinggalkan di masa lalu banyak meninggalkan kisah-kisah mengagumkan, meskipun banyak pula yang dituturkan dalam bahasa kiasan. Benar tidaknya sama-sama memberi pengaruh besar dalam suatu kepercayaan masyarakat. Dari studio animasi Dipadira di Yogyakarta dan dukungan Indonesiana TV, sebuah film animasi berjudul “Kwartet: Gupala Sang Jagawana” diproduksi sebagai salah satu karya IP (Intellectual Property) yang terinspirasi dari kepercayaan masyarakat lokal. Beberapa percaya, unsur metafisika menyatu melalui tradisi dan bersinggungan dengan alam sekitar kita. Siapkan dirimu, ya… karena Kwartet akan dikupas-tuntas dari cerita hingga balik layar produksinya!

Poster Kwartet: Gupala Sang Jagawana di platform Indonesiana.tv


Pengalaman Mistis 4 Bocah Kwartet

Kwartet adalah sebuah grup anak-anak di Desa Kalasenja yang terdiri dari Nalin, Juna, Bagas, dan Kara. Mereka berempat memiliki sifat-sifat yang berbeda. Saat sore hari, mereka sedang bermain-main lempar batu sementara Nalin aktif berkonten dengan gadget sebagai gadis sosialita. Naasnya, mereka tidak sengaja merusak sesajen di dekat sebuah pohon beringin tua dekat tempat mereka bermain. 

4 Karakter Kwartet & Sosok Gupala
Sketsa Fanart Penulis

Seorang nenek tua muncul, Mbah Arang namanya. Para Kwartet lari terbirit-birit agar tak dimarahi. Kabur ke area pepohonan sekitar yang masih rimbun, mereka tidak sengaja tersesat ke dunia gaib. Sebuah dunia paralel tak kasat mata yang dijaga makhluk mistik bernama Gupala. Mereka telah masuk dan tidak bisa kembali lagi, kecuali mereka harus menebus kesalahan yang telah diperbuat. 

Mereka berempat terpisah ke dalam dua kelompok. Juna bersama Kara, sementara Bagas bersama Nalin. Terjebak dalam dunia gaib yang amat asing, mereka bertemu penghuni menyeramkan di alam tersebut. Grup Bagas bertemu monster merah raksasa, sementara grup Juna yang lebih berani bertemu dengan Gupala. Gupala bicara berbahasa Sansekerta, menasehati mereka bahwa tiap hal yang dilakukan di dunia ini harus dipertanggungjawabkan. 

Kemunculan Gupala sang Penjaga Alam Senjakala 

Ketika keempat bocah ini bertemu, mereka malah diserang monster yang mengejar Bagas karena kecerobohan Nalin. Namun di saat yang tepat, Nenek penjaga sesajen pun datang menolong mereka menaiki burung raksasa. 

Nenek memberi wejangan kepada para Kwartet untuk menghibur makhluk-makhluk mistis yang berada di sekitar pohon beringin dengan mementaskan pertunjukan gamelan. Kecerobohan mereka sebelumnya dengan merusak sesajen, dapat dimaklumi dan dianggap impas saat itu juga. Nenek menjelaskan tentang bagaimana hubungan antara manusia dengan alam ini harus saling merawat dan menghormati, karena hal kecil yang dilakukan bisa berarti besar bagi mereka yang tak kasat mata. 


Menilik Mistika, Membaca Peradaban

Ketika suatu kepercayaan memiliki tradisi tertentu, terkadang beberapa amalan di dalamnya mengarah pada praktik ritual yang tak mudah dijelaskan. Adanya ritual pemujaan, persembahan terhadap dewa, dan penghormatan kepada leluhur. Hal ini kerap menjadi bahan perbincangan karena didasari ketidaktahuan dan kurangnya rasa saling menghargai.

Kompleks Prasasti Gondosuli di Temanggung, Jawa Tengah
Dokumentasi Penulis

Melihat konsep sesajen yang ada di lingkungan sekitar kita. Sesajen seringkali dianggap suci, seperti di tempat ibadah masyarakat Hindu maupun di beberapa situs sejarah yang dikeramatkan. Di Indonesia khususnya Pulau Jawa, sesajen sering ditemukan di jalanan, bangunan-bangunan tua, pohon besar, maupun pada makam keramat. 

Begitu pula pada bangunan candi dan prasasti. Candi sebagai situs kuno, warisan arsitektur dari masa lalu. Menyimpan berbagai sudut pandang cerita bagaimana itu dibangun, siapa yang berkuasa, dan suatu kejadian di masa itu. Melihat dari situs terdekat di Temanggung tempat dimana saya tinggal, mulai dari Prasasti Gondosuli yang berisikan catatan keberadaan Dinasti Sanjaya era Mataram Hindu, sampai Situs Candi Liyangan di Kecamatan Ngadirejo yang masih menyimpan banyak temuan purbakala besar. 

Begitu pula bila menelusuri lebih jauh berbagai candi besar yang mempengaruhi pola hidup masyarakat di sekitarnya. Candi menjadi altar pemujaan dan persembahan. Bila terdapat di pegunungan, biasanya lebih berfungsi sebagai tempat pertapaan. Apapun kepercayaannya pada saat itu, budaya masyarakat setempat diwariskan dari generasi ke generasi hingga masa ini.


Wujud Tak Kasat Mata

Kekayaan Indonesia secara geografis masih banyak ekosistem alam yang jarang terjamah manusia. Baik di daratan dan perairan, masih banyak kepercayaan masyarakat yang masih memberikan penghormatan kepada alam semesta. Ada yang menggunakan ritual seperti pemberian sesajen, ‘melarung’ di sungai dan laut. Harapannya sesajen tersebut sama-sama dibagikan kepada semesta, sesama makhluk ciptaan Tuhan yang hidup di alam liar. Seperti halnya memberi makan hewan tanpa batasan kepemilikan. Ataupun dengan mengairi tanaman tanpa menunggu turun hujan. 


Tapi tak sedikit pula yang percaya dengan memberi ke alam, berkah kebaikan juga akan kembali ke diri sendiri. Terkadang beberapa tempat tertentu dianggap ‘wingit’ dan sepi. Tempat yang singup juga berkesan adanya ‘sosok penguasa’ yang menghuni. Mereka bisa saja berwujud dewa-dewi dalam mitologi atau tradisi lampau. Bisa pula dikenal sebagai arwah leluhur, terkadang disebut juga sebagai urban legend.

Tiap daerah mempunyai penyebutan masing-masing terhadap suatu sosok. Misalnya suatu pohon besar yang kadang dipercaya dihuni makhluk tua yang ditakuti. Pepohonan bambu yang diyakini menjadi habitat Genderuwo. Kebun pisang yang sering dikaitkan dengan kemunculan sosok Pocong. Maupun dalam film animasi ini, Desa Kalasenja yang dijaga secara tak kasat mata oleh sosok Gupala. 

Gupala digambarkan berwajah besar menyerupai topeng Kala. Sosok dalam pewayangan Jawa dengan gigi taring besar dan mata melotot. Dalam struktur candi Hindu peninggalan era Majapahit, terdapat ukiran dan arca Kala atau juga disebut ‘Kalamakara’. Kala digambarkan sebagai penolak bala. Dengan bentuk hanya kepala di atas pintu Candi, memberikan pengharapan dari masyarakat agar bangunan tersebut tak lekang oleh waktu. Gupala dalam kisah Kwartet ini, dapat memanipulasi ruang dan waktu. Sekaligus menjaga keseimbangan desa Kalasenja secara spiritual. 

Kalamakara di Salah Satu Pintu Candi Prambanan & Candi Pringapus
Dokumentasi Penulis


Kalasenja di Kala Sore

Di desa asal para bocah Kwartet ini, Kalasenja berada di area yang asri dengan lingkungan alam hijau. Banyak area pepohonan dan banyak bangunan tradisionalnya bernuansa Jawa. Pembawaan konsep multidimensi dengan berpindahnya set lokasi cerita menjadi menarik melalui adanya suatu portal gaib. Dengan kekuatan metafisika Gupala, Kwartet yang berlari di jalan perkebunan berpindah ke alam lain. Seakan tanah berbalik dan langit sedikit gelap, sisi alam gaib digambarkan dengan suasana petang yang panjang. Lingkungan alam masih terasa sama, tapi dengan pepohonan yang lebih rimbun dan rapat. Kunang-kunang juga tersebar di banyak titik sebagai sumber cahaya di atas tanah. Sisi lain Desa Kalasenja ini bernama Senjakala. 

Pohon Beringin di Desa Kalasenja

Dari pola namanya, senja berarti sore atau petang hari, kala berarti waktu. Waktu sore menjadi titik penting di cerita ini. Ketika anak-anak bermain di luar ruangan khususnya di lingkungan yang wingit, hendaknya harus berhati-hati. Sebagaimana suatu area terbuka seperti hutan, kebun, sawah, maupun alam sekitar lainnya— waktu sore menjadi transisi antara matahari terbenam dan dimulainya malam. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, waktu ini dikenal sebagai ‘waktu surup’, “surupe srengenge, wektune wong leren nyambut gawe” (terbenamnya matahari, waktunya orang berhenti bekerja). Selain pertanda pergantian waktu, suasana di sekitar kita biasanya terasa hening dan cenderung lebih peka. 

Transisi ini secara simbolis menyiratkan akan hakikat manusia yang tak abadi di dunia ini. Perubahan dari langit jingga menjadi hitam, dari terang menjadi gelap, hangat menjadi dingin. Setiap manusia pasti mengalami perubahan. Dari yang muda menjadi tua, yang prima suatu saat akan renta juga. Sehingga kita perlu sadar bahwa kehidupan ini ada ujungnya, hingga sampai masa redupnya. Waktu surup ini juga sering disebut candikolo atau sandekala (dalam masyarakat Sunda). 

Waktu Surup
Dokumentasi Penulis

Meski mitosnya sendiri, anak kecil yang masih bermain-main pada waktu surup di luar rumah akan dibawa oleh makhluk halus. Ada Lampor dan Wewe Gombel yang dapat menculik orang dewasa. Tiap daerah memiliki penyebutannya sendiri. Bocah-bocah Kwartet yang bermain di sore hari, juga melakukan kesalahan terhadap lingkungan. Sudah merusak sesajen, tak kunjung pulang ke rumah— justru asal lari ke arah kebun dan hutan. Jadi kalau mereka tersesat ke alam lain, wajar juga, ‘kan!?


Rumah Produksi di Lereng Merapi

Doc Mas HA
Dipadira Animation Studios di Suatu Senja
Dokumentasi Penulis

Sejak 2018, studio animasi Dipadira banyak berfokus pada servis baik proyek dalam negeri hingga mancanegara. Beberapa film dan serial animasi yang dikerjakan juga memiliki beragam penghargaan seperti: Ejen Ali 2 (2025), Nussa & Rarra (2025), dan Jumbo (2025). Kerjasama terhadap SMK di Malang dan Batu (Jawa Timur) menjadi bagian dari sumbangsih besar dalam dunia pendidikan animasi. Dengan motto “contributing to education and manpower sustainability”, Dipadira membuktikan bagaimana kualitas suatu animasi dapat dikerjakan insan-insan kreatif yang terasah dengan sarana pendidikan dan dukungan industri yang kolaboratif. 

Bermaknakan ‘gunung yang agung’, nama Dipadira sendiri memiliki unsur alam yang kuat. Studio dibangun pada lereng Gunung Merapi di Jalan Kaliurang, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Berbatasan langsung dengan sawah dan nuansa pegunungan yang asri, area yang cukup tenang untuk menciptakan ide-ide kreasi. Nuansa tersebut mendatangkan banyak inspirasi dalam terciptanya kisah Kwartet yang berawal dari cerita komik strip. Tercipta sebagai IP sendiri yang mengangkat cerita bertema misteri. 

Dipadira mengembangkan IP Kwartet ke format film animasi 3D. Dieky Suprayogi, pemilik studio ini mengerjakan IP selayaknya membesarkan anak sendiri. Selama 4 bulan sejak pertama kali ditulis pada bulan Juni, Kwartet banyak mengambil inspirasi dari mitos dan budaya lokal. Dari budaya sesajen, mitos pohon besar, konsep topeng roh, dan kisah penculikan ke alam gaib. Bahasa Sansekerta juga masuk pada dialog Gupala sebagai pembeda karakteristik sosok gaib dengan manusia. 

Aneka Topeng di Museum Kailasa Dieng sebagai Bentuk Inspirasi Budaya Topeng Lokal
Dokumentasi Penulis

Misteri adalah salah satu genre cerita yang sangat diminati di Indonesia. Sebagaimana lingkungan studio ini berada, hal-hal astral dikemas ke dalam bentuk animasi yang dinamis dan jenaka. Sisi komedi ringan tetap diselipkan ke dalam cerita, dengan nuansa warna vibran yang terang. Walaupun dunia gaib terkesan mistis, elemen cahaya dari konsep latar 3D dan visual efeknya mendukung cerita tetap nyaman diikuti. Tidak hanya sekedar visual yang menyajikan warna gelap dan jumpscare ala cerita horor pada umumnya.


Manpower Tanpa Lelah

Bagaimana karakter saling berinteraksi satu sama lain dan bergerak, terlihat seberapa besar optimisasi perangkat kerja studio dengan spesifikasi tinggi. Film pendek ini didanai Indonesiana TV hingga dukungan platform dan publikasinya. Dengan jumlah 37 karyawan studio di berbagai divisi dan tugasnya, penganimasian Kwartet dikerjakan secara halus dan detail. 

Dipadira Team

Pengembangan cerita dari naskah hingga animatic storyboard menjadi dasar memulai produksi animasi berdurasi 12 menit 45 detik ini. Karakter memiliki ragam sifat yang berbeda-beda, itulah yang membuatnya dinamis. Tiap adegan dari shot ke shot punya kesinambungan yang logis. Pengembangan penulisan cerita cukup menantang karena ditulis sendiri oleh tim di studio. Bagaimana cerita ditulis mempengaruhi seberapa sulit dan lama produksi akan berjalan nantinya. 

Proses Praproduksi Kwartet

Aset visual dan animasi 3D dikerjakan dengan aplikasi Blender. Tahap produksi tidak lepas dari pengembangan RND (Research and Development). RND mencakup walk cycle karakter, visual display aset, dan desain environment. Meskipun waktu sangat terbatas, isu dalam pembuatan aset antar tim dapat dipecahkan dengan sigap. Dari desain visual aset yang dijadikan modelling sampai texturing, semua dikerjakan satu persatu oleh tim 10 orang termasuk 3 Lead Artist di dalamnya. 

Animasi Kwartet tidak lepas dari waktu pengerjaan yang luar biasa. Selama 12 minggu, para animator 3D di studio ini juga bekerja dengan jam ekstra. Sistem manajemen kerja (workflow) menjadi pondasi dalam produksi animasi yang baik. Proses layouting, blocking, dan animation— dengan sistem revisi (retake) dan quality control pada Kwartet telah menghasilkan 19.050 frame animasi. Beberapa gerakan animatik juga terinspirasi dari keseharian animator di studio. Seperti gerakan tarian hantu, ekspresi ketakutan, dan detail minor lainnya. 

Dibalik Produksi Animasi 3D Kwartet

LRC (Lighting Rendering Compositing) dalam animasi 3D menjadi hal utama sebelum memasuki proses edit terakhir. Terutama ketika tiap shot selesai, proses render merupakan tahap yang menguji ketangguhan hardware. Tantangan ketersediaan hardware dengan spesifikasi tinggi harus merata bagi tim LRC. Proses render harus banyak diulang karena lonjakan listrik serta adanya info pemadaman listrik di Sleman yang cukup sering. 

Produksi VFX (Visual Effect) mulai dari kebutuhan efek cahaya background dan bagaimana refleksinya, efek visual tubuh Gupala dan tekstur tubuh monster buto. Karakter hantu bertekstur kenyal dengan fisiknya yang sedikit transparan. Gupala sendiri juga kompleks. Tubuhnya dapat membesar dan mengeluarkan efek cahaya di dalam tubuhnya. Terdiri dari gabungan cahaya bintang, elemen partikel, serta tubuh elastis seperti jelly. Keunikan efek visual di Kwartet ada pada gerakan debu, percikan air, serta gestur tubuh yang menggunakan gabungan visual 2D frame-by-frame. Divisi concept artist juga turut membantu membuat visual efek ini. Bersama tim 7 orang, LRC dibantu 6 orang dari tim animator. 

Dibalik Proses Compositing Tim Divisi LRC & VFX Kwartet

Dari segi editing sejak pembuatan animatik, sekuen disusun secara progresif sambil menunggu semua shot selesai diproduksi. Dengan sentuhan Dieky sendiri dalam penyuntingan, tiap cut dalam sekuen menjaga cerita tetap terarah. Suntingan musik tema juga telah disusun lama sebelum produksi dimulai. Sehingga sampai dalam tahap edit akhir, semua bahan telah disiapkan tepat waktu. Termasuk bahan audio VA (Voice Actor) yang telah direkam secara paralel.     

Bumper Dipadira diperbaharui dari versi lamanya untuk digunakan sebagai opening animasi Kwartet. Dengan teknik frame-by-frame secara digital, bumper menggunakan konsep gunungan wayang sebagai ide animatik. Credit title juga bernuansa 2D dari konsep-konsep animatik dari pengembangan IP ini.

Dibalik Pembuatan Intro Dipadira dengan Teknik Rotoscoping 2D


Musik Pelipur Alam Gaib 

Musik di animasi Kwartet ini menggunakan gamelan yang ritmenya khas dan lekat dengan nilai spiritual dan kesakralan. Dalam banyak cerita film horor, unsur gamelan sering muncul baik secara langsung maupun sekedar bunyi saja. Pada Kwartet, adegan gamelan justru ditunjukkan di alam Senjakala ketika bocah Kwartet diculik disana. Beberapa perangkat Gamelan Jawa muncul dalam cerita, seperti: kendhang, saron, bonang, dan gong. 

Dibalik Produksi Perekaman Musik Gamelan

Gamelan bertangga nada pentatonik, yakni berjumlah 5 oktaf. Gamelan tidak seperti tangga nada diatonik yang berjumlah 7 (do-re-mi-fa-sol-la-si). Terdiri dari laras slendro dan pelog, kunci dari perekaman musik gamelan untuk animasi adalah pada teknik komposisinya. Audio gamelan dengan jarak nada yang pendek harus diterjemahkan menjadi file audio digital diatonik. Di cerita ini, Kwartet harus memainkan gamelan untuk menghibur para makhluk gaib dari berbagai ras dan bentuk hantu. Agar atmosfer adegan lebih terasa, penata musik dan audio mengambil sampling gamelan bersama pengrawit Urip Wahyono dan Sudaryanto.   

Kebutuhan VA atau pengisi suara dilakukan di 2 lokasi berbeda, yakni di Malang dan Yogyakarta. VA Mbah Arang direkam di Dipadira pada pagi hari sebelum jam masuk harian. Suara karakter Kara berdomisili di Sleman, Yogyakarta dan juga direkam di studio. Sementara VA yang lain direkam di Malang secara remote, yakni VA karakter Juna, Nalin, Bagas, dan Gupala. Perekaman VA di Yogyakarta cukup terkontrol karena dapat diarahkan langsung oleh sutradara sendiri. Tapi pada perekaman di Malang, koordinasi tidak begitu mudah dan adakalanya audio VA harus di-retake sekali lagi. Kebanyakan VA bukanlah aktor profesional dengan pengalaman dan usia yang masih relatif muda. 

Perekaman Audio VA Talent di Malang & Yogyakarta


Dari Film Pendek ke Serial IP

Dieky telah mengembangkan Kwartet dari komik strip menjadi film pendek. Kwartet: Gupala Sang Jagawana telah tayang di platform Indonesiana TV sejak rilis di bulan Oktober 2024. 

Proses kreatif yang lama diemban membuahkan banyak tayangan di beberapa festival di Indonesia. Masuk sebagai nominasi Film Animasi Pendek Terbaik FFI 2025 adalah sebuah prestasi besar. Berkompetisi dengan 22 film pendek Indonesia bersama 3 film animasi panjang yakni Jumbo, Panji Tengkorak, dan Warkop DKI Kartun

Kwartet juga telah tayang dalam layar animasi anak pada Jakarta Film Week 2024 dan Balinale 2025 sebagai Short Animation Official Selections. Kwartet juga masuk dalam daftar nominasi Suzanne Awards Animation Festival 2025. Sebuah apresiasi besar dalam komunitas Blender sedunia dengan menayangkan Kwartet dalam durasi terbatas, yakni 5 menit dari total durasinya. Kwartet juga telah tayang secara internasional di Istanbul, Turki yang diadakan oleh Universal Kids Film Festival (UKFF) ke-14 pada 24-29 Oktober 2025. 

Di Yogyakarta sendiri, Kwartet menginspirasi banyak acara animasi baik dari akademisi hingga lingkup nasional. Kampus animasi yang menjadi wahana belajar menyajikan festival animasi dengan menghadirkan studio Dipadira sebagai narasumber. Prodi Animasi ISI Yogyakarta melalui WAINI Animation Festival Vol. 5, menayangkan film animasi Kwartet sebagai bentuk gema animasi lokal. Dalam program kilau penutup “Segenggam Cerita untuk Esok Pagi”, mahasiswa dan audiens publik dapat bertanya tentang seluk-beluk produksi IP ini secara langsung. 

Antusiasme Screening Animasi pada Festival Animasi WAINI Vol. 5 di ISI Yogyakarta

Kesempatan berbincang tentang produksi IP Dipadira juga dibuka pada acara lokakarya di HOI Jakarta Center. Berisi review portfolio dan career mapping bagi peserta House of Indonesiana pada Agustus 2025 tahun lalu. Pada bulan yang sama bekerjasama dengan Himasi MMTC Yogyakarta, Kwartet hadir dalam penayangan animasi AXPO Goes to JNM Bloc. Suasana menonton film animasi horor secara outdoor menjadi spesial di bawah pohon beringin asli pada pelataran area disana.

Pada Pekan Film Indonesiana TV 2025, Kwartet juga tayang keliling 5 kota besar di Pulau Jawa. Merayakan Hari Kebudayaan Nasional, Kwartet tayang di Jakarta dan Bandung pada 14 Oktober. Sementara di Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya tayang serentak pada 17 Oktober. Ekraf sebagai pintu ekonomi kreatif nasional juga membuka peluang menonton seru Kwartet di Sleman City Hall Yogyakarta. Acara yang bertajuk Jogja Ekraf Week 2025 menambah kesempatan mengikuti talkshow setelah film ini tayang.

Bahkan Ekraf mendorong pengembangan dari IP ini ke dalam film serial yang dihadirkan pada Asia TV Forum & Market (ATF) di Singapura. Acara ini diadakan di penghujung tahun pada 2-5 Desember di Marina Bay Sands. Tahun 2025 menjadi tahun yang sibuk untuk Kwartet sebagai IP yang tumbuh dalam kolaborasi. Serial lanjutan Kwartet berjudul Kwartet: Watujiwo Series telah dikembangkan tidak lama setelah perilisan film pendeknya.

Dengan ide-ide kecil tentang keseharian bocah Kwartet di Desa Kalasenja, mereka menelusuri lebih dalam penampakan mistik disana. Seperti halnya kisah anak-anak kecil yang penasaran isi rumah angker yang ditinggalkan. Kisah semacam ini adalah hal menarik untuk dieksplorasi, apa yang mereka lihat dan sosok apa yang muncul. Watujiwo sendiri sebuah benda relik berbentuk batu segilima dengan lubang di tengahnya. Dalam cerita Kwartet, batu ini ditemukan dan dibawa Nalin ke dunianya. Konon, siapapun dapat melihat wujud hantu melalui celah lubang Watujiwo ini. 


IP dan Kearifan Lokal

Kwartet menunjukkan bahwa IP lokal mempunyai potensi besar di kancah industri animasi global. Tidak hanya visi yang besar, produksi juga menjadi tantangan yang harus ditempuh. Melalui komunitas dan dukungan pemerintah, IP lebih tersistem untuk berkembang. Melalui platform penayangan, pameran, serta talkshow kreatif adalah bagian dari proses publikasi yang harus disiapkan sejak IP diciptakan. 

Indonesiana TV merupakan program Balai Media Kebudayaan Kemenbud RI yang menyasar konten lokal yang memuat falsafah budaya Indonesia. Dengan media publikasi yang besar dan dukungan langsung terhadap produk IP, film animasi menjadi satu dari jenis produk digital yang berpotensi global. 

Melalui Kwartet, kita tidak sekedar menikmati karya animasi 3D dengan visual yang memukau. Animasi yang tidak sebatas ‘karya anak bangsa‘, namun memang memberikan inspirasi nyata dalam melihat kehidupan. Bagaimana tidak!? Seperti saat senja datang, kita tidak hanya melihat suasana indah dengan matahari yang tenggelam di ufuk barat. Dibaliknya tersimpan falsafah masyarakat di masa lalu yang diturunkan hingga sekarang. Bagaimana menjaga adab dan perilaku adalah hal yang harus ditumbuhkan dalam tiap insan. 

Nasehat Mbah Arang kepada Para Kwartet

Menjaga warisan lokal baik secara fisik, menghormati budaya dan kepercayaan lain di sekitar kita. Perilaku seperti ini dapat disampaikan melalui ragam ulah Kwartet dan interaksinya dengan penghuni alam lain, alam Senjakala. Apakah bilang permisi saat masuk rumah kosong adalah wajar? Atau perlukah khawatir saat menemukan sesajen di pinggir jalan? 

Sejatinya kita tidak sendirian di alam ini. Meski secara kasat mata, kita melihat tempat sekitar kita begitu nyata. Tapi dibalik itu semua, ciptaan Tuhan berupa makhluk gaib juga nyata adanya. Tergantung dari sudut pandang mana kita menilai. Bersikap sopan santun dan beradab terhadap alam sekitar adalah hal baik yang dapat kita tularkan. Budaya-budaya seperti itulah yang seharusnya menjadi warisan, bukan hanya sekedar aktivitas spiritual tanpa makna. 

   

Kunjungi laman Dipadira Studios di dipadira.com 

Follow sosial media Dipadira Studios:
🅾 Dipadira Studios | 🅾 IP Kwartet | 🅾 Dipadira Dailylife

Tonton trailer Kwartet: Gupala the Guardian of Senjokolo pada kanal Youtube @dipadira.studios

Tonton Kwartet: Gupala Sang Jagawana di Layar Anak Indonesiana pada kanal budaya Indonesiana.tv
🅾 Indonesiana.tv

Penulis

IIustrator, bergabung sebagai volunteer dan membantu kerja-kerja
visual seperti ilustrasi, desain, dan poster.

Tulisan Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like