Bagaimana jika sayur-sayuran di dapur kita bisa berekspresi?
Sayur Sop adalah film pendek animasi berdurasi 3 menit yang diproduksi oleh MSV Studio pada tahun 2022. Disutradarai oleh Arief Khoirul Alim dan diproduseri oleh Pita Nofitasari, film ini mengisahkan seorang koki yang hendak memasak sayur sop. Namun, sayur-sayur yang ada di meja dapur justru merasa ketakutan saat melihat temannya mulai dipotong-potong. Ceritanya ringan, namun dikemas dengan berbagai perubahan suasana dan ditutup dengan plot twist yang tidak terduga.
Dalam edisi Rubrik Balik Layar kali ini, saya akan mengulas proses di balik pembuatan film animasi Sayur Sop—debut penyutradaraan Arief Khoirul Alim atau yang sering disapa Irul, setelah ia bekerja sebagai compositor dan editor di MSV Studio sejak 2015.
IDE CERITA
Film ini mulai diproduksi pada tahun 2022, bertepatan dengan masa transisi ketika beberapa staf MSV mulai kembali bekerja di kantor, setelah sebelumnya menjalani sistem kerja dari rumah (work from office) akibat pandemi COVID-19. Pada saat itu, kantor belum terlalu padat dengan proyek, sehingga dimanfaatkan oleh sejumlah staf untuk menginisiasi sebuah film pendek.
Mereka berkumpul, berdiskusi, dan saling berbagi ide cerita yang bisa dikembangkan menjadi film. Dari berbagai ide yang muncul, akhirnya cerita dari Errin Citra terpilih untuk dikembangkan menjadi film yang berjudul Sayur Sop.
Ide cerita film ini berangkat dari pengalaman selama masa pandemi, ketika situasi terasa mencekam dan penuh ketidakpastian. Namun setelah masa sulit itu berlalu, banyak hal baru muncul. Sayur Sop dibuat sebagai representasi situasi tersebut, karena tim ingin menyampaikan cerita dengan cara yang ringan. Alih-alih menghadirkan visual yang menyeramkan, tim memilih tokoh-tokoh sayuran agar cerita tetap terasa lucu dan menyenangkan.
Irul menyampaikan kenapa memilih sayur sop, karena semua orang sudah familiar dengan makanan tersebut. Sehingga riset pada dalam film ini pun tidak dilakukan secara mendalam. Tim produksi lebih berfokus pada riset visual, khususnya mengenai tampilan seperti apa yang ingin dihadirkan dalam film.
DESAIN KARAKTER
Karakter sayur dalam film ini meliputi Brokoli, Kobis, Wortel, Bawang Merah, Bawang Putih, dan Kentang. Meskipun masing-masing tidak memiliki sifat karakter yang sangat menonjol, mereka mempunyai ekspresi wajah serta kehadiran tangan dan kaki yang membuat mereka tampak hidup.

Sumber gambar: Arsip MSV Studio
Menurut Irul, bentuk fisik sayur mempengaruhi desain tubuh serta gerakan mereka. Misalnya, Wortel yang berbentuk panjang memiliki tangan dan kaki yang juga panjang, sehingga ia bisa bergerak lebih lincah dan aktif. Sebaliknya, Kobis yang berbentuk bulat cenderung memiliki anggota tubuh yang lebih pendek.
ALUR PRODUKSI
Proses pembuatan film ini memakan waktu sekitar dua bulan. Tahap pra-produksi berlangsung selama satu bulan, sementara proses produksi dan pascaproduksi memakan waktu sekitar satu bulan berikutnya.

Sumber gambar: Arsip MSV Studio
Pembuatan film ini dimulai dengan pengembangan cerita yang kemudian diubah menjadi storyboard. Setelah itu, pembuatan aset untuk karakter dan background. Langkah berikutnya adalah pembuatan animatic, yang berfungsi sebagai panduan visual dan timing bagi animator dan pembuat ilustrasi musik.Animator kemudian mulai menggerakkan aset-aset yang telah disiapkan, mengacu pada storyboard dan animatic. Setelah animasi selesai, compositor bertugas menggabungkan hasil animasi dan background. Terakhir, editor menyatukan semua elemen—termasuk shot, musik, dan dubbing—untuk menghasilkan film yang utuh.
TEKNIK ANIMASI
Film ini menggunakan teknik motion graphic dan digital cut-out. Setiap aset digambar terlebih dahulu sebelum dianimasikan menggunakan perangkat lunak Adobe After Effects. Menariknya, aset-aset karakter dalam film ini justru dibuat oleh background artist demi menjaga keselarasan visual antara karakter dan background.
Para animator yang terlibat dalam film ini berasal dari latar belakang compositing, bukan 2d frame by frame animator, sehingga mereka sudah terbiasa menggunakan berbagai fitur di After Effects. Salah satu alat yang banyak digunakan adalah Puppet Pin Tool, yang memungkinkan animator menggerakkan tangan dan kaki karakter dengan fleksibel. Selain itu, penggunaan kamera dalam software juga dimanfaatkan untuk menciptakan efek kedalaman visual dalam beberapa adegan.

Sumber gambar: Arsip MSV Studio
Namun, teknik ini juga memiliki keterbatasan. Ketika suatu shot membutuhkan sudut pandang (angle) yang berbeda, aset harus digambar ulang dari awal. Untuk menyiasatinya, animator sering kali memiringkan objek sedikit agar tetap terlihat dinamis tanpa harus menggambar ulang secara penuh.
Film ini juga memiliki keunikan dalam cara bertuturnya. Ketika kamera menyorot sang juru masak, sayur-sayuran tampak diam dan tidak berekspresi. Namun, saat sudut pandang bergeser dan fokus tertuju pada para sayuran, mereka mulai bertingkah dan menunjukkan berbagai ekspresi. Pergantian perspektif ini menjadi elemen menarik dalam memperkuat narasi film.
MUSIK DAN SUARA KARAKTER
Musik dalam film ini dirancang dengan pendekatan yang unik. Ketika adegan menampilkan sang juru masak yang sedang memasak, musik yang digunakan terasa santai dan ringan. Namun, saat fokus bergeser ke sayuran yang ketakutan, suasana musik berubah menjadi lebih tegang dan dramatis. Ilustrasi musik ini secara efektif mengikuti suasana hati para karakter, sehingga penonton pun dapat ikut merasakan ketegangan maupun ketenangan dari setiap adegan.
Musik dalam film ini juga menyelipkan unsur lokal. Salah satu instrumen musik yang digunakan mengadaptasi irama lagu daerah Ampar-Ampar Pisang pada salah satu part-nya, memberikan sentuhan khas Indonesia yang memperkuat identitas film.
Selain itu film ini tidak menggunakan dialog verbal, melainkan hanya mengandalkan suara karakter sederhana, seperti suara jeritan atau gumaman untuk mengekspresikan perasaan para karakter. Menurut Irul, hal ini merupakan bagian dari eksplorasinya untuk menciptakan ekspresi gerak, sehingga emosi karakter bisa tersampaikan tanpa perlu kata-kata.
HARAPAN DAN APRESIASI
Irul berharap Sayur Sop bisa menjadi tontonan yang ringan dan menyenangkan, sekaligus menyampaikan pesan agar kita tidak takut terhadap perubahan. Menurutnya, rasa takut sering kali muncul karena ketidaksiapan, namun bukan berarti kita tidak mampu menghadapinya. Setiap akhir selalu membuka kesempatan untuk awal yang baru.
Sejak dirilis, Sayur Sop telah diputar di berbagai festival film internasional, menunjukkan apresiasi yang luas terhadap karya ini. Beberapa di antaranya adalah AniMate – Australia Animation Film Festival, Rio de Janeiro World Film Festival (Brazil), Tokyo Shorts (Jepang), American Documentary and Animation Film Festival (AS), La Guarimba International Film Festival (Italia), Chaniartoon – Chania Cartoon & Animation Festival (Yunani), New York Indie Short Award, serta TMFF – The Monthly Film Festival. Film ini sudah dipublikasikan secara luas dan dapat ditonton di kanal Youtube MSV Studio.
Editor: Hizkia Subiyantoro
Credit Tittle
Executive Producer
Prof. Dr. M. Suyanto, M.M.
Director
Arief Khoirul Alim
Co-Director & Story Writen
Errin Citra
Producer
Pita Nofitasari
Line Producer
Devie Pandannata
Production Coordinator
Kadha Aditya
Marina Tyas Puspa Wijaya
Ummu Unais
Art Director
Ermambang Bendung Wijaya
Storyboard
Taufiq B Ramadhan
Errin Citra
Ermambang Bendung Wijaya
Concept Art & Character
Asset Supervisor
Aditya Permana
Concept Art & Character Asset
Ardian Hidayat
Kholid Fadli
Background Supervisor
Denta Sulistyo
Background
Ahmad Rofig
Tamami Anton
Andi Nugroho
Fera Herlina Sari
Iwan Prasetya
Motion & Compositing
Compositing Supervisor
Halim Bayuaji Sumarna
2D Compositing
Ahmad Hanati
Ray Reysandi
Wira Irawan Errin Citra
Post Production
Sound Director
M. Lukman Chandra
Sound Supervisor
Meka Trimulyantono
Sound Design Lead
Ijal
Sound Design Artist
Adam Malik
Agustinus Hengki
Music Illustration Lead
Brama Shandy
Music Illustration Artist
Yugo Pratomo
Voice Director
Putut Sulistyo Pertopo Adi
Audio Engineer
Tryso Robbiniawan
Re-Recording Mix
Meka Trimulyantono
Editor
Irul Pinter
Dubber
Arief Khoirul Alim
as Wortel dan Bawang Merah
Devie Pandannata
as Kobis dan Bawang Putih
Agustinus Hengki as Kentang
Putut Sulistyo Pertopo Adi as Brokoli