Categories Artikel Screening Tips

Yang Kamu Lewatkan Saat Tidak Ikut Diskusi Setelah Menonton Film

Catatan dari Seorang Filmmaker, Penikmat Festival Film dan Programmer yang Pernah Jadi Mahasiswa

Keresahan yang Terus Berulang

Sebagai seseorang yang pernah duduk di bangku mahasiswa animasi, kini membuat film, menikmati festival dan bahkan mengurasi program untuk publik, saya tidak asing dengan satu pemandangan yang makin sulit saya terima. Begitu pemutaran film selesai, lampu menyala, sebagian besar mahasiswa, terutama mahasiswa animasi, langsung bangkit dan keluar ruangan. Tidak menoleh ke kursi diskusi, tidak melirik narasumber, bahkan tidak memberi waktu untuk hening.

Jika kamu adalah salah satu dari orang-orang yang sering melakukannya, saya paham, mungkin ada jadwal lain. Mungkin kamu lelah. Tapi ketika ini jadi pola yang berulang, saya tidak bisa tidak bertanya: apa yang sebenarnya sedang kamu cari dari film dan seberapa besar kamu menghargai proses di baliknya?

Sebagai orang yang berada di dalam dan luar sistem, yang pernah menjadi mahasiswa dan sekarang turut merancang pengalaman menonton untuk publik, izinkan saya mengatakan dengan jujur: kamu kehilangan banyak hal ketika kamu memilih keluar sebelum diskusi.

Sumber gambar: canva

1. Kamu Lewatkan Cara Membaca Film secara Aktif

Menurut Stuart Hall, film bukan sekadar pesan dari pembuat ke penonton. Ia adalah sistem makna yang diencode (dipasang) oleh filmmaker dan didecode (ditafsirkan) oleh penonton berdasarkan latar belakangnya masing-masing. Dengan kata lain, menonton adalah proses aktif, bukan pasif.

Ketika kamu tidak mengikuti diskusi, kamu kehilangan kesempatan untuk menantang pemahamanmu sendiri, untuk mendengar interpretasi lain, atau bahkan untuk sadar bahwa ada hal yang kamu lewati sepenuhnya.

Saya sudah berkali-kali duduk dalam diskusi film yang membuat saya melihat ulang seluruh film dalam pikiran saya. Seringkali, diskusi-lah yang membuat film itu “lengkap”.

2. Kamu Melewatkan Akses Langsung ke Isi Kepala Sang Kreator

Sebagai filmmaker, saya tahu betapa langkanya momen ketika penonton bisa bertanya langsung: “Kenapa kamu memilih gambar itu?”, “Apa maksud warna ini?”, atau bahkan, “Apa kamu sadar bahwa simbol itu bisa dibaca berbeda oleh orang lain?”

Ketika kamu melewatkan sesi diskusi, kamu melewatkan akses langsung ke dapur pembuatannya. Dan bukan cuma itu, kamu juga kehilangan kesempatan untuk bertanya, berdialog, atau bahkan menantang pandangan pembuatnya.

Itu bukan hal sepele. Itu adalah ruang belajar yang tidak bisa digantikan oleh YouTube tutorial atau video behind the scenes dari sutradara favoritmu yang bahkan belum tentu tahu bahwa kamu ada.

3. Kamu Mengabaikan Suara Audiens Lain dan Potensi Tumbuh Bersama

Sebagai programmer pemutaran film, saya sering melihat betapa beragamnya respons terhadap satu film yang sama. Ada yang tersentuh, ada yang marah, ada yang bingung. Dan semua itu sah. Justru di ruang diskusilah perbedaan itu menjadi penting.

Ketika kamu memilih keluar, kamu memutus diri dari percakapan. Kamu menutup ruang untuk belajar bahwa satu film bisa menumbuhkan banyak pemikiran, bahkan kontradiksi.

Sebagai mahasiswa, terutama di dunia animasi yang berada di tengah dunia seni dan film, itu adalah bagian dari proses pembentukan perspektifmu sendiri. Kamu tidak hanya belajar dari filmnya saja, tetapi juga dari orang lain yang menontonnya.

4. Kamu Meremehkan Proses Kolektif yang Membuat Pemutaran Itu Mungkin

Saya bisa pastikan bahwa tidak ada satu pun pemutaran film yang terjadi begitu saja. Ada yang mengurasi, menyusun program, menjalin komunikasi dengan filmmaker, menyiapkan ruang, menyusun kursi, bahkan kadang harus mengangkut proyektor ke ruang putar.

Ketika kamu pergi tanpa menoleh ke diskusi, kamu bukan cuma bersikap dingin terhadap filmnya. Kamu juga melewatkan kesempatan untuk menghargai seluruh jaringan orang yang membuat pemutaran itu bisa terjadi.

Apakah kamu benar-benar peduli pada film, jika kamu tak menghargai mereka yang memperjuangkan ruangnya?

5. Kamu Berkontribusi pada Budaya Konsumtif dalam Dunia Film

Budaya menonton yang hanya fokus pada “nonton lalu pulang” adalah bentuk konsumsi cepat saji. Ia tidak memberi waktu untuk mencerna, menyimak, atau bertanya. Layaknya kebiasaan menonton reels yang mudah di-swipe setelah esensi video sudah didapat dari 5 detik pertama di era sosial media ini.

Sebagai mantan mahasiswa, saya tahu tekanan tugas dan deadline bisa membuat kita ingin cepat menyelesaikan satu hal lalu pindah ke yang lain. Tapi sebagai filmmaker dan programmer, sekarang saya bisa bilang: industri film yang hanya diisi oleh praktisi teknis tanpa pemikir dan pembaca yang tajam adalah industri yang cepat jenuh dan dangkal.

Jika kamu merasa animasi hanya dinilai dari render mulus dan desain karakter, mungkin karena kamu sendiri belum melatih diri untuk berbicara dan berpikir di luar layar monitor. Dan sayangnya, budaya semacam ini membuat industri animasi terjebak dalam roda produksi yang berhenti begitu mesin uang berhenti.

Penutup: Duduk Sejenak Bisa Menjadi Gerakan Perubahan

Mengikuti diskusi film bukan soal sopan santun belaka. Ia adalah bentuk perlawanan terhadap budaya serba cepat. Ia adalah cara kita memperlambat langkah, mendengar, memikirkan ulang, dan memberi ruang pada film untuk berdialog lebih lama dengan kita.

Sebagai filmmaker, saya tidak pernah membuat film untuk ditonton sambil lalu. Dan saya yakin, banyak kreator film lain merasakan hal yang sama.

Karena itu, ketika kamu memilih untuk tetap duduk, mendengar dan mungkin berbicara, kamu tidak hanya menghargai karya dan para pembuatnya. Kamu juga sedang ikut menciptakan ekosistem film yang lebih hidup, lebih reflektif dan lebih manusiawi.

Dalam dunia animasi yang kerap dibebani obsesi teknis dan produksi massal, keberadaanmu di ruang diskusi bisa jadi awal dari perubahan: dari sekadar “bisa bikin” menjadi “punya sesuatu untuk disampaikan.”

Dan perubahan semacam itu, dimulai dari hal sesederhana memilih untuk tetap duduk dan mendengar. [HS]

Penulis

Independent Film Maker

Tulisan Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like